Melangkah dengan tertatih, ku menolak setiap bantuan orang yang datang tuk menolongku. Urai berurai air mata membanjiri kelopak mata dan pipiku. Entah... entah apa yang terpikirkan, semua gelap dan aku tak berdaya berbuat apa-apa. Melihat nenek yang lemas tak berdaya, tak bergerak bahkan tak bernafas, sedangkan aku ??!! hanya terdiam termangun dengan air mata berurai-urai. "Tuhan,,,, !! dia lah bagian dari hidupku, bagian dari nyawaku, bagian dari tulang rusukku... Haruskah ?? Haruskah Engkau ambil nyawanya tuk saat ini ??!! Tuhan... apa salahku ??!!" bantinku dalam hati.
Duka begitu menyelimuti suasana hatiku. Kini, sepergian nenek, aku hanya hidup sebatang kara. Tak ada seorang pun yang sayang, peduli dan perhatian kepadaku... Seperti sampah yang tak bermutu !! Itu lah aku,,,
Dua tahun sudah.... Aku hidup tanpa buaian sayang dari nenek, begitu miris dan menyedihkan hidup sebatang kara, ini itu harus sendiri dan serba susah. Suatu ketika aku memutuskan tuk meninggalkan gubuk indah yang tak terlalu besar peninggalan dari alm nenek tercintaku. Berat hati ketika kaki melangkah demi selangkah menjauh dari gubuk itu, ku tak kuasa menahan tangis. Semua kenangan bersama nenek masih terngiang dalam benak dan pikiranku.
Dua tahun sudah.... Aku hidup tanpa buaian sayang dari nenek, begitu miris dan menyedihkan hidup sebatang kara, ini itu harus sendiri dan serba susah. Suatu ketika aku memutuskan tuk meninggalkan gubuk indah yang tak terlalu besar peninggalan dari alm nenek tercintaku. Berat hati ketika kaki melangkah demi selangkah menjauh dari gubuk itu, ku tak kuasa menahan tangis. Semua kenangan bersama nenek masih terngiang dalam benak dan pikiranku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar